pic
http://youtu.be/oJAbATJCugs...
pic
Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini...
pic
Assalamuailkum WR. WB Nama saya Rio Aditya Kurniawan nama panggilan saya Rio , saya bertempat tinggal di jalan danau matana 5 f2a 41 sawojajar malang tempat dan tanggal lahir saya malang,25 oktober 1993  saya berkuliah di universitas muhamadiyah malang jurusan manajemen ekonomi, saya memilih kampus universitas muhamadiyah malang dikarenakan kampus ini adalah kampus yang maju daslam artian pendidikan prestasi dan macam ragam lainnya kampus muhamadiyah malang juga disebut kampus putih bukan artian kampus yang berwarna putih tetapi kampus muhamadiyah adalah kampus yang menerima semua kalangan d...
Aug

11

Belakangan ini banyak terdengar berita tentang kerusakan hutan yang terus menerus meningkat. Rusaknya hutan ini diklaim sebagai penyebab utama dari pemanasan global. Berita yang menyebar adalah tentang kebakaran hutan yang menyebabkan tingginya suhu udara dan melelehkan es di Greenland dan Antartika sehingga berdampak pada naiknya muka permukaan air laut.
Untuk membahas masalah dampak dan solusi yang harus dilakukan dalam mengatasi pemanasan Global,akan diadakan Conference of Parties (COP) ke-13United nations Framework Convention on Climate Change pada tanggal 3-14 Desember di Denpasar,Bali. Hal-hal yang perlu dibahas dalam konferensi tersebut adalah penanganan dari penyimpangan dan dampak yang harus diminimalisir sebaik mungkin. Salah satu bentuk penyimpangan dalam kasus ini adalah kemampuan serapan alami hutan terhadap kandungan karbon di udara yang tidak ditonjolkan. Bahkan ada beberapa peran dari hutan yang seakan disembunyikan oleh Negara maju. Justru hal yang ditonjolkan adalah tuduhan kepada Negara berkembang,salah satunya Indonesia karena dianggap lalai menjaga kelestarian hutannya. Seharusnya,sebelum membahas tentang Negara lain,hal utama yang harus dilakukan adalah interospeksi pada negara masing-masing. Contohnya adalah tentang masalah kerusakan hutan dunia,Negara maju di Eropa dan AS sebagai pengemisi karbon terbesar dunia justru telah lama kehilangan hutannya untuk lahan industri. Tapi kenyataannya mata dunia hanya tertuju pada Negara berkembang yang dijadikan tumpuan untuk menyerap karbon buangan dari industri Negara maju tersebut. Kerusakan hutan di Negara berkembang,dipaksa ikut mempertanggungjawabkan meningkatnya pemanasan global.

Solusi lain yang harus diterapkan adalah pengkontrolan secara rutin terhadap perencanaan yang telah dibuat untuk mengantisipasi pemanasan Global. Dalam hal ini,perencanaan yang telah dibuat oleh perhutani hijau 2010 oleh perum Perhutani. Harus dipastikan perencanaan tersebut dapat terealisasikan dengan baik. Hal lain yang patut dilakukan adalah merealisasikan potensi yang dimiliki Indonesia saat ini. Contohnya adalah sebagai Negara ke 5 terbesar yang berpotensi melakukan 10% suplai carbon credit dunia diperkirakan memiliki potensi Clean development mechanism (CDM). Caranya yaitu dengan melakukan penghijauan dan reboisasi seluas 32,5 juta hektar,Indonesia akan mampu menyerap 5,5 gigaton CO2. Selain melalui CDM,cara pencegahan dan pengurangan emisi karbon dunia adalah melalui kegiatan Joint Implementation (JI) dan Emission trading (ET) yang diasumsikan dapat menarik aliran dana Negara industri untuk berpartisipasi. Kenyataan yang ada sekarang Negara-negara industri seperti AS,Australia,Turki dan Monako masih belum mau menyumbangkan “sedikit uang”nya untuk membantu penyelamatan hutan dunia.

Dapat disimpulkan,cara yang paling baik untuk penanganan pemanasan global ini adalah adanya kolaborasi yang seharusnya diwujudkan dalam COP ke 13 ini. Maksud dari kolaborasi ini adalah sah bila Indonesia dan Negara berkembang lain juga menuntut Negara maju untuk mengendurkan fokus tekanannya yang selama ini dilakukan dalam kegiatan eksploitasi hutan. Dan selayaknya Negara maju lebih memahami dirinya sebagai penyebab utama rusaknya iklim dunia dan meningkatkan bantuannya bagi pengembangan penghijauan hutan dan lahan. Kerusakan hutan jangan semakin dibebani dengan meningkatnya hasil perdagangan ekspor hasil hutan yang akan berakibat semakin menurunnya ekonomi Negara berkembang sehingga semakin sulit untuk memperbaiki hutannya

hemat listrik:

segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumiterus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

 

Leave a Reply

Archives

April 2014
M T W T F S S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

teman-teman

Copyright © 2014 Global warning - Just another Student Blogs UMM site
Powered by WordPress using a Free Biolery Wordpress Theme. Subscribe to our RSS
Biofuel, Wood Pellets, Wood Pellet Stoves